Selasa, 13 Januari 2009

KOMUNIKASI KONTEMPORER

TUGAS UJIAN AKHIR SEMESTER KOMUNIKASI KONTEMPORER

NAMA : FANDI OCTARIAWAN
KELAS : A
NIM : 153060023


Dampak pemberitaan bom Bali di media massa bagi citra Indonesia di lingkup internasional
Oleh : Fandi Octariawan (153060023), Kelas A
Abstract
Bomb Bali that happened in Indonesia in the year 2002 and 2005 arise victim about 202 people and injure 209 people. victim come from foreign tourist. with the existence of the bali bomb bring impact to Indonesia state caused by news in mass media bringing to corner Indonesia, good that mass media coming from within country and also abroad. with the existence of the news make Indonesia image in international scope become is ugly.
Keywords : Terorisme, Pemberitaaan Media Massa, Bom Bali, Citra Indonesia
Pendahuluan
Kejadian bom Bali beberapa tahun silam di Indonesia yang memakan ratusan korban jiwa dari berbagai kalangan membawa berbagai dampak bagi Indonesia, baik itu langsung maupun tidak langsung. Aksi bom Bali tersebut dilakukan oleh sekelompok terorisme yang membeci negara-negara barat seperti Australia, Amerika Serikat, dan Inggris. Negara tersebut juga yang sangat mengecam tindakan yang dilakukan oleh terorisme tersebut karena sebagian besar korban dari bom Bali berasal dari negara tersebut. Itu diperparah lagi dengan adanya media massa yang menyebarkan pemberitaan tentang bom Bali kepada seluruh masyarakat di dunia, baik itu lewat media cetak maupun media elektronik.
Peran dari media massa itu sendiri ketika bom Bali baru saja terjadi sangat penting, seperti memberikan informasi mengenai bom Bali bagi masyarakat dari dalam negeri dan masyarakat dari luar negeri. Itu dibuktikan setelah beberapa menit bom Bali terjadi, beberapa media elektronik menayangkan breaking news untuk menjelaskan bagaimana bom bali Itu terjadi, jumlah korban jiwa akibat bom Bali, dan lain-lain. Sedangkan sehari setelah bom Bali terjadi, berbagai media cetak berlomba-lomba untuk memuat berita mengenai bom Bali dan menaruh berita tersebut di halaman utama. Itu dikarenakan masyarakat, baik itu dari dalam negeri maupun luar negeri membutuhkan berita yang sesuai fakta dan dapat dipercaya mengenai bom Bali itu sendiri. Bahkan media massa yang berasal dari luar negeri berbondong-bondong datang ke Bali untuk meliput secara langsung dan menginformasikannya kepada masyarakat dimana media massa itu berasal. Secara langsung maupun tidak langsung pemberitaan besar-besaran mengenai Bom bali membawa dampak yang buruk bagi Indonesia di lingkup internasional apalagi beberapa pelaku bom Bali ada yang berasal dari Indonesia sendiri.
Dampak dari pemberitaan media massa mengenai bom bali bagi Indonesia terutama di lingkup internasional sangat banyak. Seperti adanya travel warning dari Amerika Serikat bagi warganya yang akan melakukan perjalanan atau kunjungan ke Indonesia karena menganggap Indonesia kurang aman bagi warganya. Dengan adanya travel warning tersebut, sektor pariwisata di Indonesia terutama di Bali mengalami penurunan yang signifikan dan jumlah dari devisa yang masuk ke tangan Indonesia otomatis juga berkurang. Itu belum lagi adanya julukan negara terorisme bagi Indonesia dari beberapa negara yang menyebabkan ketika orang Indonesia yang berkunjung ke negara lain mengalami pemeriksaan yang ketat dari pihak keamanan negara setempat. Hal itu dilakukan karena negara-negara lain takut kejadian serupa seperti bom Bali, terjadi di negaranya.
Kerangka teori

Dalam menganalisis masalah ini diperlukan bantuan dari teori komunikasi untuk memecahkannya. Ada beberapa teori yang tepat untuk memecahkan masalah ini, yaitu :

  • Teori peluru
    Dalam teori ini menjelaskan bahwa seorang komunikator dapat menembakkan peluru komunikasi yang begitu ajaib kepada khalayak yang pasif tidak berdaya (schramm dalam onong 2003 : 265).
    Di dalam masalah ini yang membahas mengenai dampak pemberitaan bom Bali di media massa bagi citra Indonesia di lingkup internasional dalam penyelesaian masalahnya menggunakan teori peluru karena pemberitaan bom Bali di media massa langsung direspons oleh negara-negara di dunia selanjutnya negara tersebut melakukan sebuah tindakan atas respons berita bom Bali itu dengan memberikan travel warning kepada warganya untuk tidak mengunjungi atau melakukan perjalanan ke Indonesia sehingga secara langsung maupun tidak langsung membawa berbagai dampak bagi Indonesia.
  • Teori agenda seting
    Inti pemikiran dari teori ini adalah bahwa media dalam hal ini media massa selalu mengarahkan kita pada situasi dan isu-isu apa yang harus kita tanggapi dan perbincangkan. Media memberikan agenda-agenda melalui pemberitaanya, sedangkan masyarakat akan mengikutinya. Menurut teori ini media mempunyai kemampuan untuk menyeleksi dan mengarahkan perhatian masyarakat pada gagasan atau peristiwa tertentu. Atau dengan kata lain agenda media juga merupakan agenda masyarakat atau audience/ khalayaknya (nurudin, 2007 : 195).
    Menurut (Manheim dalam onong 2003:288) dalam pemikirannya tentang konseptualisasi agenda yang potensial untuk memahami proses agenda setting menyatakan bahwa agenda setting meliputi tiga agenda, yaitu agenda media, agenda khalayak dan agenda kebijaksanaan.
    Stephen W. littlejohn dalam nurudin, 2007 :197) pernah mengatakan, agenda seting ini beroperasi dalam tiga bagian, yaitu Agenda itu sendiri harus diformat dan Proses ini akan memunculkan masalah bagaimana agenda media itu terjadi pada waktu pertama kali, Agenda media dalam banyak hal mempengaruhi atau berinteraksi dengan agenda publik atau kepentingan isu tertentu bagi publik sehingga Pernyataan ini memunculkan pertanyaan mengenai seberapa besar kekuatan media mampu mempengaruhi publik itu melakukanya, Agenda publik mempengaruhi atau berinteraksi ke dalam agenda kebijakan. Agenda kebijakan adalah pembuatan kebijakan publik yang dianggap penting bagi individu.

Pembahasan

Bom bali terjadi di Indonesia sebanyak dua kali, yaitu pada tahun 2002 dan tahun 2005. Dengan adanya dua bom Bali tersebut maka khalayak menyebutnya dengan bom Bali I dan bom Bali II. Bali I terjadi pada malam hari tanggal 12 oktober 2002 di Kuta, pulau Bali, Indonesia. Peristiwa tersebut menewaskan 202 orang dan 209 lainnya mengalami luka berat dan luka ringan. Korban dari bom Bali I kebanyakan berasal dari wisatawan mancanegara, seperti dari Australia, Inggris, Amerika Serikat, Jerman, Swedia, Belanda, Prancis, Denmark, Selandia Baru, Swiss, Brasil, Kanada, Jepang, Afrika Selatan, Korea Selatan, Ekuador, Yunani, Italia, Polandia, Portugal, dan Taiwan. Tersangka bom Bali I berasal dari Indonesia dan melakukan peledakan tersebut karena mereka benci dengan negara-negara barat, seperti Amerika Serikat. Dari beberapa tersangka yang tertangkap dalam kurun waktu dua bulan setelah kejadian bom Bali I, tiga diantaranya dijatuhi hukuman mati, mereka antara lain Imam Samudra, Amrozi, Mukhlas.

Bom Bali II terjadi pada tanggal 1 oktober 2005. Dalam bom Bali II terjadi sebanyak 3 pengeboman, antara lain di Kuta 1 bom, yaitu di restoran RAJA’s dan di Jimbaran 2 bom, yaitu di kafe nyoman dan kafe menega. Bom tersebut dilakukan dengan cara bunuh diri. Hal itu dibuktikan dengan ditemukannya badan yang hancur berlebihan di tempat kejadian perkara setelah bom tersebut terjadi. Bom Bali II memakan korban 23 orang dan 196 orang mengalami luka-luka. Korban tewas itu berasal dari Indonesia sebanyak 15 orang, Jepang sebanyak 1 orang, Australia sebanyak 4 orang, dan 3 orang lainnya diperkirakan berasal dari pelaku peledakan.

Setelah bom Bali terjadi baik itu bom Bali I maupun bom Bali II, wartawan dari media cetak maupun media elektronik langsung berdatangan di Bali untuk meliput secara langsung. Bahkan wartawan dari negara-negara lain juga rela datang ke Bali hanya untuk mengetahui perkembangan mengenai kejadian bom Bali. Hal itu membuktikan bahwa bom Bali merupakan sebuah peristiwa besar yang dapat mempengaruhi khalayak. Sehari setelah bom Bali terjadi, media massa langsung memberitakan kejadian itu sebagai headline agar semua khalayak mengetahui mengenai bom Bali. Adanya pemberitaan di media massa yang besar-besaran membuat khalayak terutama yang berasal dari luar negeri mempunyai persepsi bahwa Indonesia merupakan negara yang tidak aman untuk dikunjungi. Hal itu membuat negara-negara asing memberikan tarvel warning pada warganya agar tidak berkunjung ke Indonesia.

Dengan adanya pemberitaan yang menghebohkan tersebut membawa dampak tersendiri bagi Indonesia, dampak itu ada di lingkup nasional maupun lingkup internasional.

Di lingkup nasional :

  1. Mata uang rupiah melemah pada pembukaan pedagangan sehari setelah kejadian bom Bali.
  2. Harga saham di IHSG Bursa Efek Jakarta anjlok.
  3. Sektor pariwisata melemah.

Di lingkup internasional :

  1. Indonesia dijuluki sebagai negar teroris oleh negara-negara asing
  2. Adanya travel warning dari negara-negara asing untuk warganya yang akan berkunjung ke Indonesia
  3. Orang Indonesia yang akan berkunjung ke negara lain mengalami pemeriksaan yang ketat dan bahkan ada yang ditolak untuk masuk ke negara tersebut.
  4. Citra Indonesia di lingkup Internasional menjadi buruk.

Penutup

Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa fungsi media massa dalam penyebaran berita dapat menciptakan berbagai macam persepsi dari khalayak mengenai suatu kejadian apalagi kejadian tersebut berskala internasional. Itu karena khalayak percaya akan berita yang disampaikan oleh media massa baik itu media cetak maupun media elektronik. Di sini media elektronik mempunyai peran yang besar dalam menciptakan suatu persepsi khalayak karena media elektronik mempunyai ciri khas yang menarik karena bersifat audio visual yang dapat menggambarkan suatu kejadian secara utuh dan terpercaya. Dalam penyebaran berita sebaiknya media massa, baik itu yang cetak maupun elektronik ketika menyebarkan suatu berita tidak memperbesar suatu masalah yang terjadi dalam suatu kejadian tertentu agar khalayak tidak mempunyai persepsi yang negatif pada obyek suatu berita.

Daftar pustaka

Effendy, Onong Uchjana, 2003, Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi, PT Citra Aditya Bakti, Bandung

Nurudin, 2007, Pengantar Komunikasi Massa, PT Rajagrafindo Persada, Jakarta

Dari internet :

(http://id.wikipedia.org/wiki/Bom_Bali_2002 diakses tanggal 9 januari 2009, at 07.15 pm)

(http://id.wikipedia.org/wiki/Pengeboman_Bali_2005 diakses tanggal 9 januari 2009, at 07.15 pm)